Informasi Haji Umrah dari Sumber Terpercaya


Benarkah Biaya Haji Indonesia Mahal?

oleh: H Abdul Gafur Jawahir;

Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH) yang dahulu dikenal dengan sebutan ONH, oleh sementara pihak sering dianggap mahal, bahkan termahal di dunia. Anggapan ini dapat dimengerti karena didasarkan atas perhitungan traveling biasa termasuk perjalanan umrah. Komponen biaya yang dihitung pada dasarnya terdapat kesamaan, yaitu tiket penerbangan PP, akomodasi, konsumsi, transportasi lokal, danbiaya operasional dan pemvisaan.
Pertanyaannya, mengapa terdapat perbedaan besaran padahal komponen dasarnya sama?
Jika diurai satu persatu, maka akan diperoleh penjelasan sebagai berikut:

1. Tiket penerbangan.
Pada sistem reguler yang diperhitungkan adalah biaya dari bandara ke bandara PP. Sedangkan pada sistem haji, perusahaan penerbangan tidak saja menghitung biaya airport to airport melainkan dari asrama embarkasi sampai kembali ke asrama debarkasi. Pola kerja operasional haji di embarkasi Tanah Air dan di embarkasi Arab Saudi yang 24 jam. mengakibatkan terjadinya pengeluaran tambahan, termasuk biaya angkutan dari asrama embarkasi/madinatul hujaj ke airport PP. Belum lagi biaya yang dikeluarkan untuk proses penyusunan jadwal dan penentuan slot di Arab Saudi.

2. Akomodasi.
Biaya akomodasi pada masa operasional haji secara umum diketahui bahwa relatif lebih mahal dibanding masa di luar musim haji. Di samping itu, sesuai dengan taklimatul haj (ketentuan perhajian) yang dikeluarkan oleh Pemerintah Arab Saudi, bagi penyelenggara haji yang jumlahnya besar seperti Indonesia ini, diwajibkan juga menyewa rumah cadangan (1 persen) yang diperlukan untuk antisipasi evakuasi jika terjadi hal-hal yang di luar dugaan, seperti kebakaran. Berdasarkan kondisi bangunan perumahan di Makkah yang tidak sama dan variasi jumlah pembagian alokasi untuk setiap maktab, maka dimungkinkan terjadinya selisih distribusi pada setiap rumahnya. Biaya untuk rumah cadangan dan selisih distribusi harus disediakan, sementara pada travel yang reguler maupun umrah tidak menjadi beban.

3. Konsumsi.
Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa pada saat operasional haji, kondisi di kota-kota perhajian penuh dengan jamaah, yang secara objektif akan berdampak terhadap penyediaan katering; terutama pada ketersediaan bahan baku, tenaga kerja professional, distribusi, dan pergudangannya. Hal ini berdampak terhadap nilai tawar pihak pengusaha katering, sehingga biaya katering haji tidak bisa sama dengan biaya katering umrah. Kondisi di Arafah dan Mina terlebih lagi menjadi lemah posisi negara-negara pengirim jemaah dengan jumlah besar, oleh karenanya pihak Muassasah kemudian mematok harga SR 300.- per orang untuk jamu (jamuan dan fasilitas) selama 3 hari di Arafah dan Mina. Bagi jamaah umrah tidak ada biaya-biaya Arafah dan Mina.

4. Transpor lokal di Arab Saudi.
Kebutuhan moda transportasi lokal pada musim haji juga sangat besar. Bahkan bagi jamaah haji negara-negara Teluk yang datang menggunakan mobil pribadi, harus pula menggunakan bus atau minibus untuk perjalanan Arafah, Muzdalifah, dan Mina. Kebutuhan akan kendaraan besar (bus) yang sangat banyak itu, hanya terjadi pada saat operasional haji. Pada hari-hari berikutnya bus-bus tersebut kemudian dikandangkan untuk musim haji tahun yang akan datang. Investasi yang besar terhadap penyediaan bus dan pengelolaan bus di luar masa operasional haji, berdampak terhadap harga sewa bus. Sedangkan pada masa umrah harga sewa bus lebih rendah, karena kesediaan bus sangat mencukupi.

5. Biaya operasional dan pemvisaan.
Pelayanan yang sifatnya massal memang membutuhkan biaya ekstra. Apalagi kegiatan pelayanan haji sangat dibatasi waktunya, sehingga bekerja 24 jam setiap harinya. Kondisi ini jelas menuntut biaya tambahan operasional, terlebih lagi profil jamaah haji yang sebagian besar berpendidikan menengah ke bawah, kaum ibu-ibu, dan umur rata-rata di atas 50 tahun, menuntut pelayanan yang lebih besar yang memerlukan tenaga/petugas haji yang banyak. Kebutuhan pelayanan yang demikian itu, tidak saja semasa di Tanah Air, tetapi juga semasa di Arab Saudi, dan semasa dalam perjalanan.

Sedangkan biaya pemvisaan pada traveling biasa maupun umrah, hanya dihitung untuk mengurus visa di Kedubes Arab Saudi. Biaya pembuatan paspor dan mengantar paspor ke Jakarta menjadi beban yang bersangkutan. Pada kegiatan haji, biaya pemvisaan sudah mencakup pengadaan paspor, penelitian dan scaning, proses bolak-balik dari daerah ke provinsi, kemudian ke Pusat, serta distribusi kembali ke embarkasi. Kegiatan penyelesaian pemvisaan ini hampir setiap harinya dilakukan secara lembur baik di Kedubes Arab Saudi maupun di Departemen Agama. Sistem pemvisaan ini meringankan jamaah haji, karena jamaah haji di mana pun tempatnya, termasuk di pelosok jauh di sana tidak perlu harus pergi ke provinsi maupun ke Jakarta untuk mengurus paspor dan visanya.

Di samping adanya karakteristik pada pelayanan haji, kemahalan terjadi karena adanya dana titipan jemaah yang dikenal dengan sebutan ‘Living Cost’ sebesar 400 dolar AS atau SAR 1,500. Living cost tersebut dikembalikan kepada jamaah di pelabuhan embarkasi pada saat akan berangkat ke Arab Saudi.

Model living cost ini oleh Dewan Perwakilan Rakyat direkomendasikan untuk tetap dipertahankan, karena sebagian besar jamaah haji terutama dari pedesaan mereka membayar BPIH atas dasar menabung, yang setelah dananya cukup sebesar BPIH dibayarkan untuk pergi haji, dengan pengertian seluruh kegiatan perhajian di Arab Saudi telah tertutupi dengan BPIH dimaksud. (sumber:jurnalhaji.com)

British Museum Gelar Pameran Haji


Pangeran Charles melihat dari dekat
salah satu artefak di pameran haji
yang digelar British Museum.

 Bagi banyak kalangan non-Muslim ritual ibadah haji adalah misteri.
Tidak banyak yang tahu apa sebenarnya ibadah ini dan apa pentingnya bagi umat Islam.
Inilah yang dicoba dikuak oleh British Museum di London yang
menggelar pameran haji yang diberi tajuk "Hajj: Journey to the Heart of Islam" hingga 15 April 2012.
"Pameran ini untuk semua orang, Muslim dan non-Muslim. Untuk semua orang yang ingin mengetahui lebih dalam satu fenomena yang sungguh luar biasa. Haji adalah salah satu ritual keagamaan terbesar di dunia," kata Neil McGregor, direktur British Museum, seperti dikutip kantor berita AFP.
"Haji adalah salah satu ibadah umat Islam yang tidak bisa dirasakan kalangan non-Muslim. Jadi penting untuk mengetahui berbagai aspek ibadah ini. Apa maknanya bagi umat Islam dan bagaimana ritual ini mengubah dunia," kata McGregor.
Dalam pameran ini, pengunjung bisa melihat artefak, video, audio, dan foto sejarah dan pengalaman orang-orang yang datang dari berbagai pelosok dunia untuk datang ke Mekah guna beribadah haji.
Di masa lalu ibadah haji membutuhkan waktu berbulan-bulan dengan kapal mengarungi Samudera Hindia.
Para calon jemaah haji harus menghadapi risiko serangan bajak laut atau kerusakan kapal di tengah jalan.
Kemajuan transportasi membuat perjalanan tersebut bisa dipangkas.
Dalam pameran di British Museum yang resmi dibuka pada 26 Januari, pengunjung juga bisa melihat kitab suci Quran dari abad ke-8 dan batu yang dulu dipakai calon jemaah haji dari Irak untuk menandai rute mereka ke Mekah.
Venetia Porter, salah satu kurator pameran, mengatakan berbagai artefak yang dipamerkan ini dipinjam dari berbagai museum lain di dunia.
Banyak di antaranya yang disumbangkan oleh Nasser Khalili, salah satu kolektor terbesar seni Islam di dunia.
"Pameran ini tak ubahnya seperti perjalanan yang mengirim pesan-pesan agama, spiritual, ritual, dan budaya yang kesemuanya mencerminkan bahwa Islam adalah agama yang sangat mementingkan harmoni," kata Khalili.(sumber:BBC Indonesia)

Oleh Oleh Haji & Umrah

Pengunjung Blog